Sabtu, 17 September 2011

kagum pada Diri sendiri

Kagum Pada Diri Sendiri
Ditulis pada September 7, 2007 oleh suryaningsih
“…..Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al Qashash : 76)
ARTI KATA
1. Arti Bahasa : Merasa gembira dan menganggap baik (wala amatun mu�minatun khairun khairun min musyrikatin walau a�jabatkum…) (QS 2/221).
2. Arti Definisi : Merasa gembira dan bangga terhadap diri sendiri dan dari apa yang bersumber dari dirinya baik terhadap perkataan atau perbuatan tetapi tidak sampai diketahui oleh orang lain, baik perkataan maupun perbuatan tersebut baik atau buruk.
SEBAB-SEBAB BANGGA DIRI
1. Kebiasaan dari sejak kecil. Seorang yang sejak kecil dibiasakan ikhlas, maka ia akan jauh dari sifat sombong dan bahkan ia tidak akan takut pada siapapun untuk berkata benar sebagaimana perkataan Musa as pd Fir’aun (Hadza ni�matun tamunnu �alayya �an �abbadta bani Israil … QS 26/22).
2. Menyanjung atau memuji dihadapan seseorang tanpa memperhatikan adab-adab syariat, yaitu ;
a. Harus ikhlas dan bukan bertujuan untuk menjilat dan bermanis-muka.
b. Harus realistis dan tidak berdusta atau berlebihan.
c. Tidak memuji orang yang ditakutkan akan menjadi bangga diri.
3. Berteman dengan orang-orang yang bangga diri, seperti contohnya Fir�aun menjadi sombong karena senantiasa dipuji dan dikultuskan oleh para pengikutnya. Maka �uzlah untuk sementara waktu merupakan langkah terakhir jika diibutuhkan untuk meredam penyakit ini.
4. Hanya terpaku pada nikmat tanpa melihat pada siapa hakikatnya yang memberi nikmat tersebut. Sebagaimana kata Qarun ketika diingatkan oleh kaumnya ia menjawab : Hadza �ala �ilmin �indi… (Ini semua adalah karena kepandaianku…)
5. Selalu berada di depan dalam kegiatan-kegiatan sebelum mendalam keislamannya dan matang kejiwaannya, oleh sebab itu hendaknya seorang mu�min mematangkan ilmu keislamannya dulu sebelim memimpin (QS 9/122), atau sering diadakan rolling dalam kegiatan-kegiatan.
6. Lalai terhadap hakikat dirinya. Suatu saat nabi SAW meludah di telapak tangannya lalu bersabda : “Wahai manusia, telah berfirman ALLAH SWT (dlm hadits Qudsi) : Kalian semua AKU ciptakan dari air yang menjijikkan seperti ludah ini, kenapakah setelah AKU sempurnakan bentuk kalian kemudian kalian malah menyekutukan AKU…”
7. Mulia keturunannya atau mulia asal-usulnya, padahal nasab dan keturunan tersebut hanya berlaku di dunia saja dan tidak ada artinya di akhirat nanti (Fa idza nufikha fishshuri fala ansaba bainahum yaumaidzin wala yatasa�alun… QS 23/101).
8. Berlebihan dalam memuliakan dan menghormati. Selalu dihormati orang dalam berbagai forum, sehingga suatu saat ia kurang dihormati orang maka ia akan merasa marah dalam hatinya.
9. Berlebihan dalam ketundukan dan ketaatan. Orang yang selalu dituakan dan dijadikan pemimpin, maka suatu saat ia dijadikan bawahan atau tidak mendapatkan jabatan, maka ia akan tersinggung.
10. Lalai terhadap dampak kagum pada diri sendiri.
DAMPAK-DAMPAK BANGGA DIRI
1. Akan terjatuh pada perangkap ghurur (jika rasa bangga diri tersebut sudah menampak keluar dan dirasakan oleh orang lainnya), bahkan sampai pada takabbur (jika sampai meremehkan atau atau mencela org lain).
2. Diharamkan dari taufiq Ilahi.Hidayah ada 2 jenis yaitu bermakna dilalah (al-Qur�an dan as-Sunnah) dan taufiq (diberi petunjuk untuk menerima kebenaran, atau cocoknya antara yang diketahui dengan amalnya, dsb). Dan ini diberikan sebagian besar melalui mujahadah (QS 29/69).
3. Runtuh di saat-saat menerima kesulitan atau cobaan, ibrah dari kisah Iblis la�natullah (dosa pertama yang dilakukan makhluk adalah dosa takabbur oleh Iblis yg bermula dari i’jab bin nafsi).
4. Merasa tidak suka, tersiksa, bahkan lari atau merasa benci jika orang lain mendapatkan kenikmatan atau kelebihan.
5. Siksa Ilahi yg berlipat-ganda, baik disegerakan ataupun ditunda nanti di hari Kiamat.
DAMPAKNYA TERHADAP SEBUAH GERAKAN DAKWAH
1. Mudah disusupi dan diadu domba. Karena banyaknya friksi internal dikalangan anggotanya.
2. Terhenti atau lambat mendapatkan pendukung dan simpatisan. Karena ALLAH SWT mencabut ta’yid (dukungan) NYA dari orang-orang yang merasa diri lebih baik dan lebih suci.
FENOMENA BANGGA DIRI
1. Menganggap diri kita sudah baik atau cukup, bahkan sampai merasa diri kita suci dari orang lain.
2. Menolak atau menghindar jika diberi/mendengar nasihat.
3. Senang jika mendengar kelemahan atau kekurangan org lain.
TERAPI TERHADAP BANGGA DIRI
1. Mengingat dan merenungkan kematian.
2. Selalu menyimak dan membaca Kitabullah.
3. Selalu menghadiri majlis ilmu dan para ulama.
4. Mendatangi dan menyaksikan org-orang yang sakit keras.
5. Minta doa pada kedua orang tua.
6. Selalu mengevaluasi diri dari waktu ke waktu.
7. Senantiasa membaca tentang peri kehidupan salaf.
a. Dari Abdullah bin abi Hudzail : Saya lihat Ammar bin Yasir saat menjabat gubernur membeli makanan untuk binatang dan dipikulnya sendiri.
b. Ma�qil bin Yasar melihat orang-orang mundur untuk memberi jalan pada khalifah Yazid bin Abdul Malik saat Thawaf, maka ia memerintahkan ummat untuk tidak berbuat demikian, sambil berkata : Da�hu yata�allama bit tawadhu� bi ba�dhil mawaqifi allati taqtulu kibriya�uha.. (Biarkan dia belajar tawadhu’ dengan berjalan bersama rakyat biasa yang akan bermanfaat mematikan kesombongan yang ada pada dirinya…)
c. Imam Malik diminta khalifah Harun ar Rasyid untuk datang ke istana mengajarkannya kitab al-Muwaththa� buatan Imam Malik, maka jawab Imam Malik : al-Ilmu yu�ta ilaihi wa la ya�ti … (Ilmu itu DIDATANGI dan bukan MENDATANGI..), sehingga khalifah datang sendiri ke rumah Imam Malik untuk belajar.
d. Imam al-Fudhail bin Iyadh, seorg tabi�in besar yang kerjanya berpindah-pindah di 2 mesjid yaitu mesjid al-Haram dan mesjid Nabawi dan tidak henti-hentinya menangis beribadah, bersedekah dan berdakwah; lalu dinasihati oleh Imam Ibnul Mubarak yang kerjanya berjihad di medan perang, iapun menerima nasihat tersebut dan membenarkan Ibnul Mubarak.
e. Imam Ahmad bin Hanbal seorg Imam Madzhab yang disiksa dicambuki selama 12 tahun sampai hancur seluruh pakaiannya dan keras badannya, hingga tinggal sehelai kain penutup auratnya saja, lalu ia dinasihati oleh seorg penjahat di penjara tersebut agar bersabar, ia diam dan menerima
(tidak menyatakan : Ya, saya juga sudah tahu..).
Allahumma inni la uridu an a�lu fil ardhi wala afsada …

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar